"sama sekali tidak terbesit untuk bersikap skeptis, hanya mempublikasikan sebuah keanehan yang tak tau pembenaranya, hanya berlaku kritik bukan untuk mencari pembenaran,hanya mencoba menahan kebenaran agar tidak jatuh ke bumi."
Ditulis oleh
Andre Vltchek
Diterjemahkan oleh
Fitri Bintang Timur
Disunting oleh
Rossie Indira
(Artikel aslinya dimuat di Counter Punch, ”
The Perfect Fascist City: Take a Train in Jakarta”, edisi 17-19 Februari 2012)
Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang
anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan
wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal
di sepanjang jalur kereta. Rasanya seperti seluruh sampah di Asia
Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti
neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan
oleh ajaran agama.
Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat
segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang
terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan
anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal
buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau
difoto.
Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat
‘demokratis’, ‘toleran’ dan ‘perekonomian terbesar di Asia Tenggara’
sebenarnya adalah tempat dimana mayoritas penduduknya tidak memiliki
kendali atas masa depan mereka sendiri. Dari dekat makin nyata bahwa
kota ini punya indikator sosial yang levelnya lazim ditemui di
Sub-Sahara Afrika, bukan di Asia Timur. Selain itu, kota ini juga
semakin keras dan tidak toleran terhadap kaum minoritas (agama maupun
etnik), termasuk mereka yang menuntut keadilan sosial. Perlu
kedisiplinan yang luar biasa untuk tidak menyadari ini semua.
Slavoj Zizek, filsuf Slovenia, menulis dalam bukunya The Violence:
“Disini kita temui perbedaan Lacanian antara kenyataan (reality) dan
yang Nyata (the Real): ‘kenyataan’ (‘reality’) yang dimaksud disini
adalah kenyataan sosial dari orang-orang yang benar-benar terlibat dalam
interaksi dan dalam proses produksi, sementara yang Nyata (the Real)
adalah sesuatu yang ‘abstrak’ yang tak dapat ditawar, logika menakutkan
dari ibukota yang menentukan apa yang terjadi dalam kenyataan sosial.
Kita dapat melihat kesenjangan ini secara jelas ketika kita pergi ke
suatu negara yang kehidupan masyarakatnya berantakan. Banyak kita lihat
kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia. Namun, yang bisa kita baca
hanyalah laporan dari para ekonom bahwa kondisi ekonomi negara ini
‘baik secara finansial’ – realitas tidak penting, yang penting adalah
kondisi di ibukota…”
Kondisi di ibukota dan para elitnya baik-baik saja, meskipun dibalik itu
negara dalam kondisi morat-marit. Tapi mari kita lihat lagi masalah
kereta api kita.