Tuesday, July 30, 2013

Epic Moment

ini terjadi sekitar seratus tahun yang lalu di maja... obrolan dengan yang mulya dengan salah satu yang benar adannya



Thursday, July 18, 2013

Bongkar Konspirasi Hebat: Antara John F. Kennedy, Sukarno, Suharto dan Freeport




Pada sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap negeri tercinta, Indonesia.



Wednesday, July 17, 2013

MENIT-MENIT MENJELANG LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI NKRI

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.
Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.

Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia
Oleh: Kafil Yamin

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas.

Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara

Monday, July 15, 2013

Kota Fasis yang Sempurna: Naik Kereta Api di Jakarta

"sama sekali tidak terbesit untuk bersikap skeptis, hanya mempublikasikan sebuah keanehan yang tak tau pembenaranya, hanya berlaku kritik bukan untuk mencari pembenaran,hanya mencoba menahan kebenaran agar tidak jatuh ke bumi."

Ditulis oleh Andre Vltchek
Diterjemahkan oleh Fitri Bintang Timur
Disunting oleh Rossie Indira

(Artikel aslinya dimuat di Counter Punch, ”The Perfect Fascist City: Take a Train in Jakarta”, edisi 17-19 Februari 2012)


Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta. Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.



Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat ‘demokratis’, ‘toleran’ dan ‘perekonomian terbesar di Asia Tenggara’ sebenarnya adalah tempat dimana mayoritas penduduknya tidak memiliki kendali atas masa depan mereka sendiri. Dari dekat makin nyata bahwa kota ini punya indikator sosial yang levelnya lazim ditemui di Sub-Sahara Afrika, bukan di Asia Timur. Selain itu, kota ini juga semakin keras dan tidak toleran terhadap kaum minoritas (agama maupun etnik), termasuk mereka yang menuntut keadilan sosial. Perlu kedisiplinan yang luar biasa untuk tidak menyadari ini semua.

Slavoj Zizek, filsuf Slovenia, menulis dalam bukunya The Violence:

“Disini kita temui perbedaan Lacanian antara kenyataan (reality) dan yang Nyata (the Real): ‘kenyataan’ (‘reality’) yang dimaksud disini adalah kenyataan sosial dari orang-orang yang benar-benar terlibat dalam interaksi dan dalam proses produksi, sementara yang Nyata (the Real) adalah sesuatu yang ‘abstrak’ yang tak dapat ditawar, logika menakutkan dari ibukota yang menentukan apa yang terjadi dalam kenyataan sosial. Kita dapat melihat kesenjangan ini secara jelas ketika kita pergi ke suatu negara yang kehidupan masyarakatnya berantakan. Banyak kita lihat kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia. Namun, yang bisa kita baca hanyalah laporan dari para ekonom bahwa kondisi ekonomi negara ini ‘baik secara finansial’ – realitas tidak penting, yang penting adalah kondisi di ibukota…”

Kondisi di ibukota dan para elitnya baik-baik saja, meskipun dibalik itu negara dalam kondisi morat-marit. Tapi mari kita lihat lagi masalah kereta api kita.

Saturday, April 13, 2013

solo traveller ke bromo

"Bandung kau punya saingan
Hampir kutarik ksimpulan suhu dingin membuat kaum hawa lebih cantik, itu kesimpulan sementara setidaknya sampai saya beristri, yah suhu kota asal istri saya lah yang akan kucap sbgai penghasil wanita cantik.
Display sensor kulit saya memperlihatkan angka 11 derajat celsius, ini stmj, dan seikat pkiran tentang orang itu, safety shoes ini yang selalu bagus di mata saya, tangan yang mengigil, mata yang sesekali melirik puncak gunung itu, dan sesekali juga melirik dua orang itu, yang bercanda dengan gemulai, ini seperti di arban tapi banyak orang, tpi banyak pdagang, tapi banyak hotel, tapi banyak yang pacaran, yang sama hanya pikiran saya, pkiran yang terikat, pikiran yang mirip februari tahun lalu, bedanya saya pake sweeter merah dan punya android yang membantu saya menulis dengan rapih, kau tau waktu saya di arban? Saya menulis di bungkus batrei....
Ini tidak seperti di ciremai, dmna pikiran saya bisa jernih memikirkan pikiran saya yang terikat, disini dicampuri keanehan, itu bidadari datang lagi di otak saya, gigi kelinci, kelopak mata gelap sama kue lapis. Saya sibuk mencari atlantis, sama seperti orang2, ini gara gara filusuf itu, yang menulis buku atlantis....
Cemoro lawang, 23 maret 13"

itulah cuplikan yang saya anggap puisi meskipun orang lain tidak.

18-22 maret saya dijadwalkan training di pandaan sebuah kota di jawa timur yang didalamnya ada pabrik rokok, tak ada yang menarik dari trainingnya selain saya bisa menyelesaikan training dalam waktu 2 hari, haha itu karena saya sudah belajar topic training ini di kampus :D

di hari terakhir karena saya menginap di malang, saya berencana ke bromo, karena tidak ada yang bisa saya ajak sebagai guide akhirnya saya berangkat sendiri, teman saya memberikan petunjuk untuk

Monday, April 1, 2013

Caving Buniayu Sukabumi

Buniayu, penamaan gua ini bagus saya kira, pencampuran 2 kata yaitu buni yang dalam bahasa sunda itu tersembunyi dan ayu itu berarti cantik, atau kalau saya artikan jadi kecantikan yang tersembunyi, ah, satu hal yang muncul dalam benak saya, wanita berhijab :D.

gua buniayu terletak di Desa Kertangsana Kecamatan Nyalindung di ketinggian sekitar 800 m, cukup tinggi buat sebuah kawasan karst.Di sana juga tersedia akomodasi yang cukup nyaman dan cukup terjangkau buat yang berkantong pas-pasan. Buat yang gak punya alat penelusuran gua, jangan kuatir anda bisa sewa alat lengkap di sana. Buat yang suka berpetualang juga tersedia jalur wisata khusus yang harus menuruni tali menggunakan SRT. Jangan ragu, anda akan didampingi oleh guide yang cukup profesional dan meyakinkan. 
Gua ini dikelola oleh PERHUTANI dan untuk anda yang berminat bisa langsung datang ke lokasi.  Masuk gua ini, anda akan disuguhi pemandangan berbagai ornamen gua yang sangat indah dan juga berbagai jenis hewan yang sangat menarik dari yang kecil sampai kelelawar yang besar.
Akomodasi
Kalau anda senang tinggal bersama penduduk setempat, di kawasan buniayu terdapat satu rumah dengan kamar berjumlah 2 dan satu tempat tidur yang di luar kamar dan kapasitas bisa untuk 7-10 orang. Rumah yang bisa digunakan adalah rumah Ibu Isah yang terletak di dekat Gua Buniayu, selain itu juga disediakan gubuk di kawasan gua yang bisa anda sewa, ada 3 gubuk yang trbuat dari dinding kayu dananyaman bambu disan, Namun kalau anda lebih suka tidur di tempat yang nyaman sperti tinggal di hotel, mungkin bisa tinggal atau cari hotel di kota Sukabumi yang berjarak sekitar 45 menit dengan mobil.


untuk tarifnya sendiri bervariasi tergantung minat penelusuran